Tampilkan postingan dengan label SEJARAH ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH ISLAM. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Februari 2014

Rasulullah Bercahaya saat Bicara dan Selalu Harum dalam Penampilan


Ibnu Abbas berkata; jika Rasulullah berbicara terlihat seperti ada cahaya yang keluar dari celah-celah gigi serinya itu


ilustrasi
Makam Rasulullah Muhammad di Masjid Nabawi (di bawah Kubah Hijau)



Oleh: Mabni Darsi, MA

TIDAK ada umat Islam di dunia ini yang tidak mengenal dan mencintai Rasulullah Muhammad Shallallahu �alaihi Wassalam. Akhlaknya yang mulia pada istri, anak, tetangga dan pada setiap orang yang mengenalnya, seolah menjadi magnet tersendiri.

Perilakunya yang jauh dari sifat keji, tidak pernah mengucapkan kata-kata kotor, tidak berbuat gaduh dan sosok yang pemaaf dan tidak pernah membalas kejelekan orang, bahkan telah membuat seorang suku Badui terpesona hingga memeluk Islam.
Apa dan bagaimana sebenarnya sosok Rasulullah Muhammad?

Inilah ciri-ciri akhlak dan fisik Rasulullah Muhammad Shallallahu �alaihi Wassalam di mata istri dan para Sahabat-Sahabat beliau.

***

Aisyah Radhiall�hu �anha berkata:

�Beliau (Rasulullah) adalah orang yang paling mulia akhlaknya, tidak pernah berlaku keji, tidak pula mengucapkan kata-kata kotor, tidak berbuat gaduh di pasar, dan tidak pernah membalas dengan kejelekan serupa, akan tetapi beliau pemaaf dan pengampun.� (HR Ahmad)

Anas bin Malik Radhiall�hu �anhu berkata:

�Aku tidak pernah melihat seorang pun yang sedang berbisik dengan Rasulullah Shallall�hu �alaihi wasallam kemudian beliau menjauhkan kepalanya, sehingga orang tersebut-lah yang menjauhkan sendiri kepalanya. Dan aku juga tidak pernah melihat seorang pun yang menjabat tangan Rasulullah Shallall�hu �alaihi wasallam kemudian beliau melepas tangannya, sehingga orang tersebut-lah yang melepaskan tangannya sendiri.� (HR Abu Daud)

�Aku belum pernah menyentuh sutra yang lebih lembut dibandingkan telapak tangan Rasulullah Shallall�hu �alaihi wasallam. Dan aku juga belum pernah mencium minyak wangi (misk) atau parfume apapun yang lebih harum dibandingkan aroma Rasulullah Shallall�hu �alaihi wasallam.� (HR Bukhari)

�Kedua telapak tangannya lebar, kulitnya tidak terlalu putih dan tidak terlalu coklat; tetapi putih kemerah-merahan. Ketika beliau meninggal dunia, di kepalanya hanya ada dua puluh lembar uban.� (HR Bukhari)

Abu Hurairah Radhiall�hu �anhu Berkata:

�Beliau adalah seorang yang panjang kedua lengannya, lentik alisnya, kedua matanya lebar, dan antara kedua pundaknya kekar dari depan dan belakang. Demi bapak dan ibuku, sungguh beliau tidak pernah berbuat keji dan tidak pula berkata keji, dan beliau juga tidak pernah mengeraskan suaranya di tempat tempat umum.� (HR Ahmad)

�Belum pernah aku menyaksikan orang yang lebih baik dari Rasulullah; seakan-akan mentari berjalan di wajah beliau. Dan belum pernah aku melihat orang yang jalannya lebih cepat dari Rasulullah; seakan-akan bumi dilipat untuk beliau.� (HR Tirmidzi)


Abu Bakar Radhiall�hu �anhu berkata: �Orang yang terpercaya dan pilihan, mengajakan kebaikan, dan seperti cahaya bulan purnama yang mengusir kegelapan.�

Ali Radhiall�hu �anhu berkata:


��.Beliau adalah pamungkas para Nabi, orang yang paling dermawan, paling lapang dada, paling benar tutur katanya, paling komitmen dengan janjinya, paling lembut perangainya, paling mulia pergaulannya, siapapun yang memandangnya dengan tiba-tiba pasti akan segan kepadanya, siapapun yang bergaul dengannya secara dekat pastilah mencintainya. Aku belum pernah melihat orang seperti beliau sebelum dan sesudahnya.� (HR Tirmidzi)

Ibnu �Abbas Radhiall�hu �anhu berkata:

�Di antara gigi-gigi serinya ada celah, dan apabila berbicara terlihat seperti ada cahaya yang keluar dari celah-celah gigi serinya itu.� (HR Darimi)

Ka�b bin Malik Radhiall�hu anhu berkata:

�Apabila bergembira, wajahnya bercahaya, seakan-akan wajah beliau itu sepotong rembulan.� (HR Bukhari)

Jabir bin Samurah Radhiall�hu �anhu berkata, �Kedua betisnya sangat ideal, tertawa beliau sebatas tersenyum. Apabila aku melihatnya, aku selalu berkata, �Pelupuk matanya hitam seakan akan memakai celak, padahal tidak.�� (HR Tirmidzi)

�Beliau pernah mengusap pipiku, kudapati tangannya terasa dingin dan aromanya sangat harum seakan-akan beliau baru mengeluarkannya dari keranjang tempat minyak wangi.� (HR Bukhari)

Abdullah bin Salam Radhiall�hu �anhu berkata:

�Ketika Rasulullah Shallall�hu �alaihi wa sallam tiba di Madinah, orang-orang bergegas menyambut beliau sambil mengucapkan, �Rasulullah telah datang�. Rasulullah telah datang�. Rasulullah telah datang�� aku berusaha menembus kerumunan orang untuk menyaksikan wajah beliau secara langsung. Setelah kuperhatikan wajahnya, aku langsung menyimpulkan bahwa wajah beliau bukanlah tampang seorang pendusta. Dan yang pertama kali beliau ucapkan adalah, �Hai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makan dan laksanakan shalat ketika orang lain sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.� (HR Tirmidzi).*



Rep: Administrator

Editor: Cholis Akbar

Senin, 03 Februari 2014

Konspirasi di Balik Tragedi Karbala dan Terbunuhnya Husain




Al-Husain bin �Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu �anhu, atau yang dikenal sebagai Husain Radhiyallahu �anhu, adalah cucu Rosululloh Shallalahu alaihi wa sallam, buah hati dan kecintaannya di dunia. Ia adalah saudara Hasan bin �Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu �anhu, penghulu pemuda penduduk surga. Kedudukan tinggi tersebut tidak ia peroleh, kecuali ia lakoni dengan ujian dan cobaan, dan sungguh Husain Radhiyallahu �anhu telah berhasil melewati ujian tersebut secara penuh dengan kesabaran dan keteguhan (tsabat) yang sempurna hingga menemui Alloh Subhanahu wa Ta�ala. Rosululloh Shallalahu alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Hudzaifah Radhiyallahu �anhu, �Sesungguhnya ini adalah malaikat yang belum pernah turun ke bumi sebelum ini, ia meminta izin kepada Robbnya untuk mengucapkan salam kepadaku dan menyampaikan kabar gembira bahwa Fathimah adalah penghulu kaum wanita penghuni surga dan bahwasanya Hasan serta Husain adalah penghulu para pemuda penghuni surga.� (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh al-Albani).

Husain Radhiyallahu �anhu dan Kronologis Syahidnya

Setelah kekhilafahan dilimpahkan kaum Muslimin kepada Hasan bin �Ali Radhiyallahu �anhu, kemudian ia turun (lengser) darinya untuk diberikan kepada Mu�awiyah Radhiyallahu �anhu untuk memelihara darah kaum Muslimin, dengan syarat selanjutnya Mu�awiyah sendiri yang akan menyerahkan kembali kekhilafahan kepada Hasan Radhiyallahu �anhu. Akan tetapi Hasan meninggal dunia sebelum Mu�awiyah meninggal. Maka ketika itu Mu�awiyah memberikan kekhilafahan kepada anaknya, Yazid. Tatkala Mu�awiyah meninggal, maka Yazid memegang perintah, dan Husain enggan memba�iatnya, lalu ia keluar dari Madinah menuju ke Mekkah dan menetap di sana.

Kemudian golongan pendukung ayahnya dari Syi�ah Kufah mengirim surat kepada Husain agar ia keluar bergabung menemui mereka. Mereka menjanjikan akan menolongnya jika ia telah bergabung. Maka Husain tertipu dengan janji mereka, dan mengira bahwa mereka akan merealisasikannya untuk memperbaiki kebijakan yang buruk dan untuk meluruskan penyelisihan yang diawali pada kekhilafahan Yazid bin Mu�awiyah.

Perbuatan Husain Radhiyallahu �anhu untuk bergabung dengan penduduk Kufah sendiri dinilai salah oleh para penasehatnya. Di antara mereka adalah Ibnu �Abbas, Ibnu �Umar, �Abdulloh bin Ja�far Radhiyallahu �anhum dan lainnya. Bahkan �Abdulloh bin �Umar Radhiyallahu �anhu terus mendesak kepada Husain agar tetap tinggal di Mekkah dan tidak keluar. Namun dengan dilandasi baik sangka, Husain menyelisihi permusyawarahan mereka dan keluar, lalu Ibnu �Umar Radhiyallahu �anhu berkata kepadanya, �Aku menitipkanmu kepada Alloh dari pembunuhan!�.

Begitu Husain Radhiyallahu �anhu keluar, ia menemui Farozdaq di jalan yang berkata kepadanya, �Berhati-hatilah engkau, mereka bersamamu namun pedang-pedang mereka bersama Bani Umayyah. Mereka adalah Syi�ah yang mengirim surat kepadamu, dan mereka menginginkanmu untuk keluar (ke tempat mereka), tetapi hati-hati mereka tidak bersamamu. Secara hakiki mereka mencintaimu, akan tetapi pedang-pedang mereka terhunus bersama Bani Umayyah!�

Akhirnya, sangat jelas sekali tampaklah pengkhianatan Syi�ah ahli Kufah, walau mereka sendiri yang mengharapkan kedatangan Husain Radhiyallahu �anhu. Maka wakil penguasa Bani Umayyah, �Ubaidillah bin Ziyad yang mengetahui sepak terjang Muslim bin �Aqil yang telah membai�at Husain, segera mendatangi Muslim dan langsung membunuhnya sekaligus tuan rumah yang menjamunya, Hani bin Urwah al-Muradi. Dan kaum Syi�ah Kufah hanya diam seribu bahasa melihat pembantaian dan tidak memberikan bantuan apa-apa, bahkan mereka mengingkari janji mereka terhadap Husain Radhiyallahu �anhu. Hal itu mereka lakukan karena �Ubaidillah bin Ziyad telah memberikan segepok uang kepada mereka.

Maka ketika Husain Radhiyallahu �anhu keluar bersama keluarga dan pengikutnya, berangkat pula Ibnu Ziyad untuk menghancurkannya di medan peperangan, maka terbunuhlah Husain Radhiyallahu �anhu dan terbunuh pula semua sahabat yang mendampinginya secara terzhalimi dan dapat dianggap sebagai pembantaian sadis. Kepala mulianya terpotong, lalu diambil oleh para wanita dan anak-anak yang berada di antara pasukan dan diberikan paksa kepada Yazid di Damaskus. Ketika melihat kepala Husain dibawa ke hadapannya saat itu, Yazid pun sedih dan menangis. Kemudian para wanita dan anak-anak dikembalikan ke kota, sedangkan anak laki-laki ikut terbunuh, sehingga tidak tersisa dari anak-anak (Husain) kecuali �Ali Zainul Abidin yang ketika itu masih kecil.

Kemanakah Syi�ah Kufah Pendusta dan Pengkhianat?
Sejak pertama, Syi�ah Kufah sudah takut berperang dan telah �siap� menjual kehormatan mereka dengan harta. Mereka merencanakan pengkhianatan untuk mendapatkan kekayaan dan kedudukan semata, walaupun hal itu harus dibayar dengan menyerahkan salah seorang tokoh Ahlul Bait, Husain Radhiyallahu �anhu. Mereka tidak memberikan pertolongan kepada Muslim bin �Aqil, dan ternyata tidak pula ikut berperang membantu Husain Radhiyallahu �anhu.
Dalam tragedi mengenaskan ini, di antara Ahlul Bait lainnya yang gugur bersama Husain Radhiyallahu �anhu adalah putera �Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu �anhu lainnya, yaitu Abu Bakar bin �Ali, �Umar bin �Ali, dan �Utsman bin �Ali Radhiyallahu �anhu. Juga putera Hasan sendiri, Abu Bakar bin Hasan Radhiyallahu �anhu. Namun anehnya, ketika kita mendengar kaset-kaset, ataupun membaca buku-buku Syi�ah yang menceritakan kisah pembunuhan Husain Radhiyallahu �anhu, keempat Ahlul Bait tersebut tidak pernah diungkit. Lantas, apa tujuannya?
Tentu saja, agar para pengikut Syi�ah tidak memberi nama anak-anak mereka dengan tiga nama sahabat Rosululloh Shallalahualaihi wa sallam yang paling dibenci orang-orang Syi�ah, bahkan yang dilaknat oleh mereka setiap harinya.
Melihat kebusukan perangai dan pengkhinatan Syi�ah, Husain Radhiyallahu �anhu dalam doanya yang sangat terkenal sebelum wafat atas mereka adalah �Ya Alloh, apabila Engkau memberi mereka kenikmatan, maka cerai-beraikanlah mereka, jadikanlah mereka menempuh jalan yang berbeda-beda, dan janganlah restui para pemimpin mereka selamanya, karena mereka telah mengundang kami untuk menolong kami, namun ternyata malah memusuhi kami dan membunuh kami!�.
Konspirasi dibalik Terbunuhnya Husain Radhiyallahu �anhu
Di balik tragedi Karbala, yaitu terbunuhnya Husain Radhiyallahu �anhu dan banyak Ahlul Bait lainnya serta rombongan yang menyertainya, ada rahasia besar yang harus diketahui, yaitu:
1. Ternyata yang membunuh Husain Radhiyallahu �anhu adalah �Ubaidillah bin Ziyad yang berkolaborasi dengan Syi�ah Husain.
Fakta ini bahkan diakui oleh sejarawan Syi�ah sendiri, Mulla Baqir al-Majlisi, Qadhi Nurullah Syustri dan lainnya, tentunya selain fakta sejarah yang jelas dan mengedepankan nilai ilmiah yang selama ini telah banyak beredar.
Mereka adalah para pengkhianat, musuh-musuh semua kaum Muslimin, bukan hanya bagi Ahlus Sunnah saja.
2. Kecintaan Syi�ah terhadap Ahlul Bait hanyalah isapan jempol dan kebohongan yang dipropagandakan.
Bahkan yang Syi�ah da�wahkan tiada lain merupakan upaya untuk menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Majusi Saba�iyah (pengikut Abdulloh bin Saba�).
3. Keadaan Syi�ah yang selalu diburu dan dihukum oleh kerajaan-kerajaan Islam di sepanjang masa dalam sejarah membuktikan dikabulkannya doa Husain Radhiyallahu �anhu di medan Karbala akan adzab Syi�ah.
4. Upacara dan ritual Asyura�-an, seperti menyiksa badan dengan cara memukul-mukul tubuh dengan rantai, pisau dan pedang pada 10 Muharram dalam bentuk perkabungan yang dilakukan oleh Syi�ah sehingga mengalirkan darah, juga merupakan bukti diterimanya doa Husain Radhiyallahu �anhu, bahkan mereka terhina dengan tangan mereka sendiri.
Dari upaya menelusuri tragedi terbunuhnya Husain Rahimahullah dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Syi�ah bukanlah Ahlul Bait, dan Ahlul Bait berlepas diri dari Syi�ah, diantara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh, bagaikan timur dan barat, bahkan lebih jauh lagi.
2. Barangsiapa yang mengaku-ngaku mencintai dan mengikuti jejak Ahlul Bait namun ternyata mereka berlepas diri dari orang-orang yang dicintai Ahlul Bait tersebut, maka yang ada hanyalah klaim kedustaan dan propaganda kesesatan. [syiahindonesia]

Jumat, 31 Januari 2014

Awal Mula Azan Dikumandangkan



SETIAP akan masuk waktu shalat, maka kita akan mendengarkan suara azan dikumandangkan. Anda juga pasti sering mendengar seruan azan di daerah tempat tinggal Anda sendiri.

Azan artinya pemberitahuan masuknya waktu shalat dengan redaksi tertentu. Sedangkan orang yang bertugas mengumandangkan azan dinamakan muazin.

Azan mulai disyariatkan pada tahun ke-1 Hijrah.

Dulu, kaum muslim berkumpul, mengira-ngira waktu shalat lalu melakukan shalat. Tidak seorangpun yang melakukan untuk panggilan shalat.

Suatu hari mereka membicarakan hal itu, ada yang mengusulkan, �Pergunakanlah lonceng seperti lonceng orang-orang Nasrani.�

Ada yang mengusulkan, �Lebih baik menggunakan terompet seperti terompet orang-orang Yahudi.�

Umar r.a mengusulkan, �Mengapa kalian tidak menyuruh seseorang melakukan panggilan untuk shalat?�

maka Rasulullah saw bersabda, �Hai Bilal berdirilah dan lakukan panggilan untuk shalat.� (HR Ahmad dan Bukhari)

Ketika Rasulullah saw menyuruh menyiapkan lonceng untuk dipukul guna menghimpun kaum muslim untuk shalat. Riwayat lain berbunyi, �Beliau sendiri tidak suka dengan lonceng itu karena menyerupai orang-orang Nasrani tiba-tiba, di waktu aku tidur, aku dikelilingi seorang laki-laki yang membawa sebuah lonceng di tangannya.
Aku katakan kepadanya, �Hai hamba Allah, apakah engkau bersedia menjual lonceng itu?�

Ia menjawab, �Untuk apa?�

Aku menjawab, �Untuk panggilan shalat.�

Ia berkata, �Maukah engkau kutunjukkan yang lebih baik dari itu?�

Aku berkata,�Tentu.�

Ia berkata, �Ucapkanlah, �Allahu Akbar, Allahu Akbar,� Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, Hayya �alash-shalah, Hayya �alash-shalah, Hayya �alal-falah, Hayya �alal-falah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallah�.�

Kemudian, ia melangkah sedikit mundur dan berkata, �Jika shalat hendak dimulai ucapkanlah, �Allahu Akbar, Allahu Akbar,� Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, Hayya �alash-shalah, Hayya �alash-shalah, Hayya �alal-falah, Hayya �alal-falah, Qad qamatish shalah, Qad qamatish shalah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallah�.�

Pagi harinya aku menghadap Rasulullah SAW dan menceritakan mimpi yang aku alami. Nabi SAW bersabda, �Insyaallah, sesungguhnya itu mimpi yang benar. Berdirilah dengan Bilal dan ajarkanlah kepadanya, lalu biarkan dia yang melakukan azan karena suaranya lebih baik dan lebih lantang dibandingkan dengan suaramu.�

Aku pun berdiri bersama Bilal dan aku ajarkan kepadanya. Dan ia yang mengumandangkan azan. Umar ra yang berada di rumah langsung ke mesjid sambil menyeret kainnya dan menghadap Nabi saw lalu berkata,
�Demi Zat yang telah mengutusmu dengan kebenaran aku juga bermimpi seperti mimpi yang dia alami. Nabi saw bersabda, �Alhamdulillah.� (H.R Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dan Tirmidzi ) menurut Tirmidzi hadist ini hasan shahih. [cericerchan]